Kebijakan Iran di Selat Hormuz dan Dampaknya terhadap Pasar Minyak Dunia
Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah Iran mengumumkan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka bagi pelayaran internasional, namun dengan pengecualian bagi kapal yang dianggap berafiliasi dengan musuh-musuh negara tersebut. Keputusan ini muncul di tengah eskalasi konflik antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Ali Mousavi, perwakilan Iran untuk International Maritime Organization (IMO), memberikan klarifikasi mengenai status Selat Hormuz pada Minggu (22/3/2026). Menurutnya, jalur perairan tersebut tetap terbuka, tetapi kapal-kapal yang memiliki hubungan dengan "musuh-musuh Iran" dilarang melintas. Ia menegaskan bahwa keamanan kapal dan awaknya harus dijaga dengan koordinasi dengan otoritas keamanan Iran sebelum melewati selat.

Dampak pada Pasar Minyak Dunia
Kebijakan Iran ini berpotensi memicu tiga efek utama di pasar energi global:
-
Premi Risiko
Meskipun Selat Hormuz dibuka, perusahaan asuransi kapal tetap akan mematok tarif tinggi karena risiko "salah identifikasi" atau penyitaan oleh Iran. Hal ini dapat meningkatkan biaya pengiriman minyak. -
Gangguan Logistik
Kapal-kapal yang harus memutar atau berganti bendera untuk menghindari "daftar hitam" Iran akan menambah biaya operasional. Jika biaya logistik naik, maka harga minyak mentah juga akan terdorong naik. -
Psikologi Pasar
Investor minyak sangat sensitif terhadap ketidakpastian geopolitik. Selama ada label "kapal musuh dilarang melintas", harga minyak mentah akan tetap fluktuatif karena pasar belum melihat situasi benar-benar aman.
Selat Hormuz merupakan jalur utama bagi sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia. Gangguan kecil saja di wilayah ini bisa langsung mengguncang harga energi global.
Proyeksi Harga Minyak Berdasarkan Status Selat Hormuz
Beberapa skenario kemungkinan terjadi berdasarkan status Selat Hormuz saat ini:
- Selat terbuka normal tanpa filter → Harga minyak berpotensi turun karena pasokan lancar.
- Selat terbuka dengan filter Iran (situasi saat ini) → Harga minyak cenderung stabil tapi tinggi karena risiko masih ada.
- Selat terganggu atau terjadi serangan → Harga minyak berpotensi melonjak tajam.
- Selat ditutup total → Harga minyak bisa melonjak ekstrem dan memicu krisis energi global.
Artinya, keputusan Iran membuka selat secara selektif memang mencegah krisis langsung, tetapi belum cukup untuk menurunkan harga energi secara signifikan.
Dampak pada Masyarakat dan Ekonomi
Dampak situasi di Selat Hormuz tidak hanya dirasakan oleh negara produsen minyak, tetapi juga masyarakat di banyak negara, termasuk Indonesia.
-
Inflasi Barang Pokok
Jika harga minyak tidak stabil akibat "filter" Hormuz, biaya distribusi barang kebutuhan pokok akan ikut naik karena transportasi bergantung pada BBM. Dampaknya bisa terlihat pada harga beras, gula, hingga tarif logistik. -
Beban Subsidi
Pemerintah kemungkinan harus bekerja lebih keras menahan harga BBM agar tidak naik di tengah fluktuasi harga minyak dunia. Jika harga minyak global terus naik, beban subsidi energi juga berpotensi membengkak.
Ketegangan yang Masih Tinggi
Di lapangan sendiri, ketegangan antara Iran dan AS maupun Israel belum mereda. Setelah ultimatum yang dikeluarkan Trump, pihak Iran menjawabnya dengan tegas siap membalas jika AS benar-benar menyerang infrastruktur pembangkit listrik mereka.
Dilaporkan BBC, Sabtu (21/3/2026), rudal Iran berhasil menembus sistem pertahanan udara Israel dan menghantam area pemukiman di Dimona serta kota Arad, Israel. Situasi ini menunjukkan bahwa meskipun Selat Hormuz dibuka, risiko konflik masih tinggi.
Ultimatum Trump terhadap Iran
Donald Trump mengeluarkan ultimatum keras kepada Iran terkait penutupan Selat Hormuz, seiring dengan dibukanya lagi kuota impor minyak Iran sebesar 140 ribu barel oleh Amerika Serikat.
Dalam akun media sosialnya, Truth Social, Trump memberikan ultimatum keras kepada Iran terkait penutupan Selat Hormuz di tengah eskalasi perang Timur Tengah. Ia menyatakan, Iran memiliki waktu 48 jam untuk membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut. Jika tidak, AS mengancam akan menyerang dan menghancurkan infrastruktur energi Iran.
Presiden ke-47 AS itu juga menetapkan batas waktu hingga Senin pukul 23.44 GMT (Selasa, 06.44 WIB) sesuai waktu unggahannya. Ultimatum ini muncul hanya sehari setelah Trump menyebut sedang berpikir mengakhiri operasi militer di Iran setelah tiga pekan perang. Pada saat bersamaan, Selat Hormuz masih tertutup dan ribuan Marinir AS tambahan dilaporkan bergerak menuju Timur Tengah.