Aksi Saling Ejek Antara Roy Suryo dan Rismon Sianipar
Setelah terjadi perpecahan, dua tersangka kasus tudingan ijazah palsu Presiden Joko Widodo, yaitu Roy Suryo dan Rismon Sianipar, kembali melakukan aksi saling ejek. Sebelumnya, Rismon Sianipar mengejek Roy Suryo yang dinilai tidak mampu melakukan riset ilmiah dan hanya memberikan kontribusi kecil dalam pembuatan buku Jokowi's White Paper. Kini giliran Roy Suryo yang mengejek Rismon karena dianggap telah melakukan kesalahan fatal dengan meminta maaf langsung kepada Jokowi di Solo.
Roy Suryo menyebut bahwa tindakan Rismon tersebut lebih berbahaya dibandingkan kesalahan yang dilakukan oleh eks tersangka lain seperti Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis. Menurut Roy, mereka tidak perlu meminta maaf untuk mendapatkan penyelesaian melalui jalur restorative justice (RJ). Ia juga mengaku prihatin dengan keputusan Rismon yang rela jauh-jauh datang ke rumah Jokowi di Solo, Jawa Tengah.
"Aduh aku kasihan terus terang sebagai sahabat saya. Saya enggak mengatakan bekas sahabat ya, sahabat saya, saya kasihan kepada Rismon yang harus melakukan rotasi sefatal itu," ujar Roy, Senin (23/3/2026), dikutip dari Nusantara TV.
Roy menilai permintaan maaf tersebut tidak perlu dilakukan hanya untuk mendapatkan penyelesaian melalui jalur RJ. "Ini fatal beneran dia. Kenapa? Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis saja bisa kalau cuman mau mendapatkan RJ, tanpa minta maaf. Dia dia kan ngakunya enggak minta maaf," jelas Roy.
Menurut Roy, baik Eggi Sudjana maupun Damai Hari Lubis masih terhormat ketimbang Rismon. "Masih punya pride, masih bisa mendongakkan sedikit kepala, artinya dia masih bisa teriak lah dan masih bisa menyampaikan pikiran-pikirannya, tidak malu benar gitu loh, tidak jatuh-jatuh benar namanya. Rismon tuh kenapa harus sampai minta maaf aja semaaf-maafnya, sejatuh-jatuhnya," ucap Roy.
Rismon Sianipar Bongkar Aib Roy Suryo

Sebelumnya, Rismon Sianipar secara blak-blakan mengungkapkan tentang penelitian ijazah Jokowi yang ia tuliskan dalam Jokowi's White Paper bersama Roy Suryo dan Dokter Tifa. Rismon mengklaim bahwa Roy Suryo hanya menulis 50 halaman dari total sekitar 700 halaman dalam buku tersebut. Ia menyesalkan cara kerja Roy Suryo yang dianggapnya tidak mencerminkan sosok seorang peneliti.
Menurut pengakuannya, mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) itu tidak menulis temuannya terkait ijazah Jokowi dalam bentuk format resmi yang siap tayang tetapi melalui pesan singkat yang dikirimkan ke Rismon via WhatsApp. Rismon mengaku perlu mengedit kembali tulisan Roy Suryo karena saat dikirimkan kepadanya, tidak tertata secara rapi.
Bahkan, dia menyebut tulisan Roy Suryo itu tidak dikirimkan secara langsung ke Rismon tetapi oleh Dokter Tifa. "Tulisan Anda 50 halaman pertama yang pada buku Jokowi's White Paper yang Anda kirimkan berupa tulisan dalam WA (WhatsApp), bukan lampiran dalam (format) Word Document." "Kemudian saya lakukan export, saya kopi pesan-pesan Anda tersebut yang dikirimkan Bu Tifa, lalu saya kirimkan ke email lalu saya tata dalam bentuk Word Document. Saya lay out sendiri, saya melakukannya untuk Anda," katanya dikutip dari YouTube Balige Academy, Rabu (18/3/2026).
Tidak Layak Disebut Riset Ilmiah
Selanjutnya, Rismon menilai tulisan Roy Suryo terkait ijazah Jokowi tidak layak dianggap sebagai hasil riset ilmiah. Menurutnya, isi dari tulisan Roy layaknya artikel yang dimuat di media massa. "Tulisan Anda Pak Roy Suryo bagi saya hanya sekadar artikel-artikel seperti yang ada di artikel online. Bukan merupakan kajian ilmiah digital forensik yang mendalam dan obyektif."
"Itu (tulisan Roy Suryo) hanyalah menceritakan kejadian-kejadian yang menurut saya itu seperti kerja jurnalistik," tuturnya. Rismon juga menyebut bahwa Roy tidak menjelaskan secara rinci terkait proses penelitiannya menggunakan metode Error Level Analysis (ELA) dan gradien analysis sehingga bisa menyimpulkan bahwa ijazah Jokowi adalah palsu.
"Apa yang Anda tuliskan hanyalah sekadar produk atau output dari software yang Anda gunakan yang tidak Anda jelaskan bagaimana parameter cunny itu dilakukan, bagaimana threshold itu Anda lakukan." "Di sinilah tidak ada nilai keilmiahan yaitu hanya sekadar memasukkan citra digital masukan ke dalam sebuah software lalu Anda katakan itu ilmiah," katanya.
Rismon mengatakan Roy Suryo tidak menjelaskan proses penelitiannya tersebut karena tak memahami ilmu matematika yang menurutnya menjadi ilmu dasar dalam bidang digital image processing.
Tuding Ada Muatan Politis
Rismon juga kecewa terhadap Roy Suryo yang terkesan meremehkan berbagai pihak yang tidak sejalan dengannya dalam kasus ijazah palsu Jokowi. Menurutnya, Roy tidak pantas bersikap semacam itu karena tidak memiliki latar belakang sebagai peneliti.
Dia mengungkapkan bahwa berdasarkan penelusurannya, Roy Suryo tidak pernah menerbitkan riset ilmiah dan terindeks dalam Google Scholar. Google Scholar merupakan mesin pencari yang khusus digunakan untuk menemukan literatur akademis seperti jurnal, tesis, buku, hingga laporan teknis. "Anda tidak memiliki buku, chapter, jurnal, yang tercatat dalam Google Scholar Anda. Tetapi Anda meremehkan semua orang dan mendewakan diri sendiri. Ini yang buat saya kecewa," katanya.
Rismon pun menuding ada motif politis dari Roy Suryo di balik tuduhan bahwa ijazah Jokowi palsu. "Dan saya mencurigai adanya afiliasi politik, makannya saya keluar dari kasus ini. Anda mendompleng tulisan saya 480 halaman itu. Ini yang saya tidak suka," tegasnya.