
Perang Israel-Iran: Dampak Ekonomi dan Perspektif Kebijakan
Perang antara Israel dan Iran, yang dimulai pada 28 Februari lalu, masih terus berlangsung tanpa adanya tanda-tanda signifikan bahwa konflik ini akan segera berakhir. Hingga saat ini, tidak ada rencana perdamaian atau gencatan senjata yang diusulkan oleh kedua belah pihak. Masing-masing kubu tetap mempertahankan pendiriannya untuk melanjutkan aksi perang, meskipun jumlah korban jiwa pasukan dan warga sipil terus meningkat.
Dorongan internasional untuk dialog mulai muncul, namun hingga saat ini belum ada harapan nyata bahwa situasi akan segera mereda. Dampak dari konflik ini telah menyebar ke berbagai sektor, termasuk pasar energi, keuangan, manufaktur, penerbangan komersial, dan pariwisata global. Ancaman resesi ekonomi global mulai dibicarakan jika perang terus berlanjut dalam jangka panjang.
Penutupan Selat Hormuz dan Dampak Ekonomi Global
Situasi semakin memburuk ketika pemerintah Iran memutuskan untuk menutup Selat Hormuz secara efektif. Jalur pelayaran energi paling kritis di dunia ini telah mengalami gangguan serius, dengan sekitar 75% negara Teluk dan ekspor energi minyak dan gas Irak terdampar. Hal ini memicu gangguan pasokan terbesar sejak embargo minyak Arab tahun 1973.
Analisis terhadap risiko global menunjukkan bahwa konflik di Timur Tengah dapat berdampak besar pada PDB global, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi regional. Jika konflik berakhir sekarang, PDB global akan menyusut sebesar 590 miliar dolar AS (0,54% dari PDB global). Namun, jika perang terus berlanjut, penyusutan PDB bisa mencapai lebih dari 3,5 triliun dolar AS (3,15% dari PDB global).
Inflasi global juga berpotensi melonjak karena kenaikan harga energi dan pupuk. Kenaikan ini akan memperlambat pertumbuhan ekonomi dan memperparah inflasi, sehingga memicu fase stagflasi. Negara-negara produsen migas di kawasan Teluk akan mengalami keruntuhan pendapatan, sementara negara-negara importir seperti Jepang, Korea Selatan, dan Pakistan akan menghadapi tekanan biaya impor energi yang parah.
Dampak Tak Langsung pada Negara-Negara Non-Konflik
Negara-negara yang tidak terlibat langsung dalam konflik juga terkena dampak tak langsung. Kenaikan inflasi harga energi, gangguan rantai pasokan, dan penularan keuangan serta investasi menjadi tantangan besar bagi mereka. Ironisnya, negara-negara ini memiliki sedikit solusi alternatif untuk mengurangi dampak dari konflik tersebut.
Sektor penerbangan lintas negara juga terdampak secara langsung dan tidak langsung. Perubahan rute penerbangan meningkatkan biaya operasional, sementara beberapa rute kritis ditunda atau dibatalkan. Konsumen global pun mulai membatalkan atau menunda mobilitasnya melalui jalur udara, yang berdampak pada beban keuangan perusahaan penerbangan.
Di sektor pariwisata, penurunan pesanan hotel, perjalanan wisata, dan layanan akomodasi sangat signifikan. Negara-negara tujuan wisata favorit mengalami anjloknya kunjungan turis, baik lokal maupun asing.
Sektor Manufaktur dan Keuangan
Di sektor manufaktur, pasokan bahan baku dan bahan penolong dari negara lain terganggu. Meski bahan baku bisa didatangkan, harganya melonjak, yang berdampak pada inflasi di negara-negara importir. Di sektor keuangan, bursa saham di seluruh dunia mengalami koreksi tajam setelah agresi militer Israel ke Iran. Mata uang negara berkembang seperti rupiah mengalami pelemahan akibat pemilik dana mencari dolar AS sebagai "safe haven".
Jalan Keluar dan Kebijakan Antisipatif
Para pemimpin negara dan lembaga internasional seperti IMF, Bank Dunia, dan PBB telah mengambil sikap dialogis untuk menyelesaikan konflik. Sejumlah langkah penting perlu dilakukan, seperti:
- Menyampaikan proposal damai kepada masing-masing negara untuk menahan diri dan menghentikan eskalasi perang.
- Maksimalkan dorongan diplomatik untuk mengakhiri konflik secara cepat.
- Mempercepat transisi energi untuk mengurangi ketergantungan pada impor migas.
Negara-negara harus mempercepat pembangunan infrastruktur energi terbarukan agar lebih mandiri dan tangguh terhadap krisis energi global.
Kebijakan Antisipatif di Indonesia
Di Indonesia, pemerintah dan otoritas terkait terus melakukan upaya antisipatif untuk menghadapi perkembangan perang Israel-Iran. Bank Indonesia (BI) telah mempertahankan BI-Rate, suku bunga Deposit Facility, dan Lending Facility untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan pencapaian sasaran inflasi.
Koordinasi antara kebijakan moneter dan fiskal juga terus diperkuat untuk memitigasi dampak ketidakpastian global. Momentum penguatan pertumbuhan ekonomi Indonesia perlu terus dijaga pada rentang 5,1%—5,4% tahun ini.