
Kegelisahan Warga Soppeng Menunggu Hasil Pengeboran Air Bersih
Bupati Soppeng, Suwardi Haseng, dan Wakapten Soppeng Selle KS Dalle, dalam tiga hari terakhir menghadapi ketegangan yang luar biasa. Mereka menunggu hasil pengeboran air bersih yang menjadi harapan besar bagi warga setempat. Proyek ini tidak hanya berhubungan dengan kebutuhan dasar masyarakat tetapi juga janji kampanye mereka yang dulu diucapkan.
Dengan menggunakan teknologi pengeboran hingga kedalaman 400–500 meter, keduanya optimistis bahwa air bersih akan segera ditemukan. Proyek ini juga diharapkan menjadi hadiah khusus untuk perayaan HUT Soppeng. Pengeboran dilakukan di kawasan rumah jabatan bupati di titik tertinggi Watansoppeng menggunakan mesin khusus dari China.
Pengeboran telah dimulai sejak Jumat (3/4/2026) pagi, dengan mesin water drilling machine di belakang rumah jabatan bupati, Jl Pengayoman, Lalabata, Watansoppeng, masih menderu. Akhir pekan lalu, bupati dan wabup menekan tombol aktivasi mesin yang didatangkan khusus oleh kontraktor asal Bandung, Jawa Barat itu. Hingga awal pekan ini, masih mengebor titik rintisan air bersih.
- Durasi pengeboran memakan waktu hingga lima hari karena kontur geologi tanah Watansoppeng yang terdiri dari batuan jenis Alfisol.
- Dari penampang visual air bawah tanah terlihat ada semacam danau air jernih, di kedalaman 450 hingga 500 meter.
- Kelak, saat air ini sudah mengalir ke rumah-rumah warga, pelanggan PDAM bisa langsung mengkonsuminya.
Ini adalah protek SPAM pertama di Indonesia timur, dengan mengebor dari kedalaman setengah kilometer. Jika mata mesin bor dan pemasangan pipa sekitar 8-10 mm tak ada kendala, semburan air jernih akan muncrat Selasa (7/4/2026), atau sehari sebelum kedatangan Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman ke Watansoppeng.
Mesin buatan China ini sudah mengebor sumber air tanah di kedalaman 400 -500 meter, mesin beroperasi di kontur dataran tertinggi di Watansoppeng, 210 mdpl. Mesin ini dirancang untuk eksplorasi air tanah, dengan tekonolgi crawler (roda rantai) untuk mobilitas, dan tenaga diesel untuk efisiensi tinggi, dengan kemampuan bor diameter 100-500mm.
Pasangan politisi Golkar - Demokrat ini sadar betul, air akan jadi penyejuk kegelisahan sekitar 47 persen warganya. Watansoppeng, ibu kota kabupaten berpenduduk 244 ribu jiwa ini, tiga dekade terakhir dilanda sumber krisis air bersih. Krisis air bersih mendera sekitar 52 ribu warga di 7 kelurahan urban dan tiga kecamatan sekitar.
Satu titik bor air di belakang rujab bupati, selanjutnya akan ditambah 49 titik di 8 kecamatan di Soppeng. Ini adalah program Penyediaan Air Minum (SPAM) dengan skema Build Operate Transfer (BOT) selama 30 tahun dengan investor dari Jawa Barat.
- Ini dikerjakan swasta, dan sama sekali tak membebani keuangan daerah.
- Selama 3 dekade, air bersih untuk kawasan kota jadi beban terbuka empat kepala daerah di Soppeng.
- Hampir saban hari, pelanggan mengeluh beban biaya bulanan mengalir namun debit, durasi aliran dan kualitas air terus menurun.
Sekitar 9.200 Pelanggan PDAM Soppeng, juga tak maksimal menikmati air bersih. Di Lalabata saja, kecamatan ibu kota kabupaten, ada sekitar 49 ribu warga. Ini hampir 34 persen total penduduk kabupaten tanpa garis pantai ini.
Dua sumber aliran air utama di Soppeng, mata air Citta dan Ompo, menanggung tiga beban besar.
- Air Pertanian, wisata permandian alam dan air bersih warga, terus meningkat.
- Ompo, sekitar 2.1 km dari pusat kota, jadi sumber air baku PDAM, sekitar awal dekade 1990-an.
- Waktu Pung Abbas Sabbi (1990-1995) sudah dimulai, tapi dimaksimalkan di periode Pung Andi Harta Sanjaya (2000-2005, setelah itu Air PDAM kota Soppeng terus kekurangan air baku.
Debit air bersih dari 50 titik mata air di ketinggian inilah nantinya akan ditampung di bak penampungan, sebelum didistribusi ke rumah-rumah pelanggan, dan bak public tersier. Masalah lain, jelasnya, jaringan instalasi air bersih, seperti pipa sudah kadakuarsa. Beban ini memicu tingginya tingkat kebocoran air PDAM. Perusahaan utilitas utama publik ini, juga hampir 2 dekade tak berkontribusi ke keuangan daerah.
Kegelisahan ini, coba ditangani sejak awal pemerintahan Suwardi-Selle. Februari 2025 lalu, atau hanya dua pekan setelah dilantik serentak bersma 651 kepala daerah di Jakarta, bupati dan wabup langsung tancap gas dan fokus ke penyediaan sumber air baku. Fokus pertama di kecamatan Lalabata. Ini kecamatan utama dengan kapadatan 179,24 jiwa per km/2.
Konsentrasi Terbesar konsumen air PDAM ada di Kelurahan Lalabata Rilau merupakan wilayah dengan penduduk terbanyak di kecamatan ini, yaitu sekitar 9.899 jiwa. Konsumen air terbamyak ada Kelurahan (Bila, Botto, Lalabata Rilau, Lapajung, Lemba, Ompo, Salokaraja) dan 3 Desa (Maccile, Mattabulu, Umpungeng).